Showing posts with label sirah. Show all posts
Showing posts with label sirah. Show all posts

Sunday, 26 January 2014

Kisah Terbunuhnya Umar bin Al Khaththab

Ringkasnya, ketika Umar selesai melaksanakan ibadah haji pada tahun 23 H beliau sempat berdo’a kepada Allah di Abthah,mengadu kepada Allah tentang usianya yang telah senja, kekuatannya telah melemah, sementara rakyatnya tersebar luas dan ia takt tidak dapat menjalankan tugas dengan sempurna. Ia berdo’a kepada Allah agar Allah mewafatkannya dan berdo’a[1] agar Allah memberikan syahadah (mati syahid) serta dimakamkan di negeri hijrah (yaitu Madinah), sebagaimana yang terdapat dalam shahih Muslim bahwa Umar pernah berkata, “Yaa Allah, aku bermohon kepadamu mendapatkan syahadah (mati syahid) di atas jalanMu dan wafat di tanah Nabi-Mu” [2]

Maka Allah mengabulkan do’anya ini dan memberikan kedua permohonannya tersebut, yaitu mati syahid di Madinah. Ini adalah perkara yang sulit namun Allah Maha lembut kepada hamba-Nya. Akhirnya beliau ditkam oleh Abu Lu’lu’ah Fairuz-seorang yang aslinya beragama Majusi dan tinggal di Romawi-[3] ketika Umar shalat di mihrab pada waktu Subuh hari Rabu tanggal 25 zulhijjah tahun 23 H dengan belati yang memiliki dua mata. Abu Lu’lu’ah menikamnya tiga tikaman -ada yang mengatakan enam tikaman-, satu di bawah pusarnya hingga terputus urat-urat di dalam perut beliau[4] akhirnya Umar jatuh tersungkur dan menyuruh Abdurrahman bin Auf agar menggantikannya menjadi imam shalat. Kemudian orang kafir itu (Abu Lu’lu’ah) berlari ke belakang sambil menikam seluruh orang yang dilaluinya. Dalam peristiwa itu sebanyak 13 orang terluka dan 6 orang dari mereka tewas[5]. Maka segera Abdullah bin Auf[6] menangkapnya dengan melemparkan burnus (baju panjang yang memiliki penutup kepala) untuk menjeratnya, kemudian Abu Lu’lu’ah bunuh diri, semoga Allah melaknatnya. Waktu itu Umar segera dibawa ke rumahnya sementara darah mengalir deras dari luka-lukanya. Hal itu terjadi sebelum matahari terbit. Umar berkali-kali jatuh pingsan dan sadar, kemudian orang-orng mengingatkannya shalat beliau sadar sambil berkata, “Ya aku akan shalat dan tidak ada bagian dari Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” Kemudian beliau shalat, setelah shalat beliau bertanya siapa yang menikamnya?” Mereka menjawab, “Abu Lu’lu’ah budak Al-Mughirah bin Syu’bah.” Beliau berkata, “Alhamdulillah yang telah menentukan kematianku di tangan seseorang yang tidak beriman dan tidak pernah sujud kepada Allah sekalipun.”

Kemudian Umar berkata, “Semoga Allah memberikan kejelekan baginya, kami telah mnyuruhnya suatu perkara yang baik. Al-Mughirah memberinya gaji sebanyak dua dirham per hari, kemudian ia menuntut Umar agar gaji budaknya itu ditambah karena budaknya memiliki banyak keahlian dan merangkap beberapa profesi, yaitu sebagai tukang kayu, pemahat dan tukang besi, maka Umar menaikkan gajinya menjadi 100 dirham perbulan. Umar berkata kepadanya, “Kami dengar bahwa irimu mampu membuat penumbuk gandum yang berputar di udara (kincir)?” Abu Lu’lu’ah menjawab, “Demi Allah aku akan memberitahukan kepadamu tentang penumbuk gandum yang akan menjadi pembicaraan manusia di timur dan barat -percakapan ini terjadi pada hari selasa di malam hari- dan ternyata dia menikamnya tepat pada hari Rabu di pagi hari pada 25 Dzulhijjah. Kemuian Umar mewasiatkan agar penggantinya yang menjadi Khalifah dimusyawarahkan oleh enam orang yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dalam keadaan ridha kepada merea, yaitu Ustman, Ali, Thalhah, Az-Zubair, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, sebab Sa’id berasal dari kabilah Umar dan dikhawatirkan kelak dirinya terpilih disebabkan kerabatannya yang dekat dengan Umar. Umar mewasiatkan kepada siapa yang akan menggantikannya untuk berbuat yang terbaik kepada seluruh manusia dengan berbagai macam tingkatan mereka.

Akhirnya Umar wafat tiga hari setelah peristiwa itu, beliau dikebumikan pada hari Ahad di awal bulan Muharram tahun 24 H dan dikebumikan di kamar Nabi di samping Abu Bakar Ash-Shiddiq, setelah mendapatkan izin dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu’anha.

Al-Waqidi rahimahullah berkata, “Aku dibetahukan oleh Abu Bakar bin Ismail bin Muhamad bin Sa’ad dari ayahnya dia berkata, ‘Umar ditikam pada hari Rabu 25 Dzulhijjah tahun 3 H. Masa kepemimpinannya selama 10 tahun 5 bulan 21 malam, sementara pelantikan Usman terjadi pada hari senin pada tanggal 3 Muharram, ketika aku sebutkan hal ini pada Utsman bin Akhnas, dia berkata, ‘Engkau keliru’. Umar wafat 25 Dzulhijjah dan Utsman dilantik pada malam terakhir di bulan Dzulhijjah. Dengan demikin dia memulai kekhlaifahannya pada awal bulan Muharram 24 H”[7]

Abu Ma’syar berkata, “Umar terbunuh pada tanggal 25 Dzulhijjah tepat dipenghujung tahun 23 H. Masa kekhalifahannya adalah 10 tahun 6 bulan 4 hari. Setelah itu Utsman dibai’at[8] menjadi khalifah.”

Ibnu Jarir berkata, “Aku diberitahukan oleh Hisyam bin Muhamad dia berkata, ‘Umar terbunuh pada tanggal 23 bulan Dzulhijjah dan masa kekhalifahannya adalah 10 tahun 6 bulan 4 hari.”[9]

Riwayat Al-Bukhari Tentang Peristiwa Terbunuhnya Umar[10]

Al-Bukhari berkata, “Kami diberitahukan oleh Musa bin Ismail, dia berkat kami diberitahukan oleh Abu ‘Awanah dari Husain bin Amru bin Maimun, dia berkata, aku pernh melihat Umar bin Al-Khaththab beberapa hari sebelum dirinya terbunuh, di Madinah sedang berbicara kepada Hudzaifah bin Al-Yaman dan Utsman bin Hunaif, ia berkata, ‘Apa yang telah kalian perbuat? Apakah kalian takut telahmembenai pajak bumi yang memberatkan dan tidk sanggup dibayar pemiliknya? ‘ Keduanya menjawab, ‘Kami membebani pajak bumi dengan sepantasnya, tidak terlalu banyak.’ Umarberkata, ‘Hendaklah kalian berdua meninjau ulang, jangan-jangan kalian telah membebani pajak bumi yang tidak sanggup dipikul oleh para pemiliknya.’ Keduanya berkata, ‘Tidak.’ Umar melanjutkan, ‘Jika Allah masih memberikan kepadaku umur yang panjang, maka aku akan tinggalkan para janda-janda di Irak dalam keadaan tidak lagi membutuhkan para pria setelah aku wafat.’”

Empat hari setelah itu beliau terbunuh. Amru bin Maimun berkata, “Pada pagi terbunuhnya Umar aku berdiri dekat sekali dengan Umar. Penghalang antara aku dan beliau hanyalah Abdullah bin Abbas. Kebiasannya jika beliau berjalan di sela-sela shaf beliau selalu berkata, ‘Luruskan!’ Setelah melihat barisan telah rapat dan lurus beliau maju dan mulai bertakbir. Pada watu itu mungkn beliau sedang membaca surat yusuf atau An-Nahl ataupun surat yang lainnya pada raka’at pertama hingga seluruh jama’ah hadir berkumpul. Ketika beliau bertakbir tiba-tiba aku mendengar beliau menjerit, ‘Aku dimakan anjing (aku ditikam).’

Ternyata beliau telah ditikam oleh seorang budak, kemudian budak kafir itu lari dengan membawa pisau belati bermata dua. Setiap kali melewati orang-orang dia menikamkan belatinya ke kanan maupun kiri sehingga menikam 13 orang kaum muslimin dan 7 di antara mereka tewas. Ketika salah seorang dari kaum muslimin melihat peristiwa itu ia melemparkan burnus (baju penutup kepala) untuk menangkapnya. Ketika budak kafir itu yakin bahwa di akan tertangkap dia langsung bunuh diri. Umar segera menarik tangan Abdurrahman dan menyuruhnya maju menjadi imam. Siapa saja yang berdiri di belakang Umar pasti akan melihat yang aku lihat. Adapun orang-orang yang berada di sudut-sudut masjid mereka tidak tahu apa yang terjadi hanya saja mereka tidak lagi mendengar suara Umar, di antara mereka ada yang mengatakan,’Subhanallah.’

Maka akhirnya Abdurrahman yang menjadi imam shalat mereka dan ia sengaja memendekkan shalat. Selesai orang-orang mengerjakan shalat, Umar berkata, ‘Wahai Ibnu Abbas lihatlah siapa yang telah menikamku.’ Ibnu Abbas pergi sesaat kemudian kembali sambil berkata, ‘Pembunuhmu adalah budak milik Al-Mughirah.’ Umar bertanya ‘Budaknya yang lihai bertukang itu?’ Ibnu Abbas menjawab, ‘Ya.’ Umar berkata, ‘Semoga Allah membinasakannya, padahal aku telah menyuruhnya epada kebaikan, Alhamdulillah yang telah menjadikan sebab kematianku di tangan orang yang tidak beragama Isam, engkau dan ayahmu (Abbas) menginginkan agar budak-budak kafir itu banyak tinggal di Madinah.’”

Pada waktu itu Abbas yang paling banyak memiliki budak, Abbas pernah berkata kepada Umar, “Jika engkau mau budak-budak itu, akan ami bunuh.” Umar menjawab, “Engkau salah, bagaima membunuh mereka setelah mereka mulai berbicara dengan menggunakan bahasa kalan, shalat menghadap ke arah qiblat kalian dan melaksanakan haji sebagaimana kalian melaksanakannya?”

Umar segera dibaw ke rumahnya. Kami berangkat bersama-sama mengikutinya. Seolah-olah kaum muslimin tidak pernah mendapat musibah sebelumnya, ada yang berkomentar, “Lukanya tidak parah.” Dan ada juga yang berkata, “Aku khawatir ia akan tewas.” Setelah itu dibawakan kepadanya minuman nabidz dan ia meminumnya, tetapi minuman tersebut keluar dari perutnya yang ditikam. Kemudian dibawakan kepadanya susu dan ia meminumnya, namun susu tersebut tetap keluar lagi dari bekas lukanya, maka yakinlah mereka bahwa Umar tidak tertolong lagi dan ia pasti akan tewas, maka kami masuk menjenguknya, sementara orang-orang berdatangan mengucapkan pujian atas dirinya. Tiba-tiba datang seorang pemuda berkata, “Bergembiralah wahai Amirul Mukminin dengan berita gembira dari Allah untukmu,engkau adalah sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pendahulu Islam, engkau menjabat pemimpin dan engkau berlaku adil, kemudian engkau berikan Allah syahadah (mati Syahid).” Umar menjawab, “Aku berharap seluruh perkra yang engkau sebutkan tadi cukup untukku, tidak lebih ataupun kurang.” Tatkala pemuda itu berbalik ternyata pakaiannya terjulur hingga menyentuh lantai.

Umar memanggilnya dan berkata, “Wahai saudaraku, angkatlah pakaianmu sesungguhnya hal itu akan lebih bersih bagi pakaianmu dan lebih menaikkan ketaqwaanmu kepada Rabbmu. Wahai Abdullah bin mar lihatlah berapa utangku.” Mereka hitung dan ternyat jumalhnya lebih kurang sebanyak 86.000. Umar berkata, “ika harta keluarga Umar cukup untuk melunasinya maka bayarlah dari harta mereka, jika belum juga lunas mintalah kepada Bani Adi bin Ka’ab dan jika ternyata belum juga cukup maka mintalah kepada kaum Quraisy dan jangan minta kepada selain mereka. MAa tunaikan hutang-hutangku, berangkatlah engkau sekarang ke rumah ‘Aisyah -ummul mukminin- dan katakan, “Umar menyampaikan salam kepadanya dan jangan kau katakan salm dari Amirul Mukminin, sebab sejak hari ini aku tidak lagi menjadi Amirul Mukminin, katakan kepadanya bahwa Umar bin Al-Khaththab minta izin agar dapat dimakamkan di samping dua sahabatnya. Maka Abdullah bin Umar segera mengucapkan salam dan minta izin masuk kepada ‘Aisyah dan ternyata ia sedang duduk menangis. Abdullah bin Umar berkata, “Umar bin Al-Khaththab mengucapkan salam untukmu dan ia minta izin agar dapat dimakamkan di sisi kedua sahabatnya.” ‘Aisyah menjawab, “Sebenarnya aku menginginkan agar tempat tersebut menjadi tempatku kelak jika mati, namun hari aku hars mengalah untuk Umar.”

Ketika Abdullah bin Umar kembali, maka ada yang mengatakan lihatlah Abdullah bin Umar telah datang. Umar berkata, “Angkatlah aku. Salah seorang menyandarkan Umar ke tubuh anaknya Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhu.”

Umar bertanya kepadanya, “Apa berita yang engkau bawa?” Dia menjawab, “Sebagaimana yang engkau inginkan wahai Amirul Mukminin, ‘Aisyah telah mengizinkanmu.” (untuk dimakamkan di sisi dua sahabatmu). Maka Umar berkata, “Alhamdulillah, tidak ada yang lebih penting bagiku selain dari itu, jika aku wafat maka bawalah jenazahku ke sana dan katakan, ‘Umar bin Al-Khaththab minta izin untuk dapat masuk, jika ia memberikan izin mak bawalah aku masuk, tetapi jika ia menolak, maka bawalah jenazahku kepemakaman kaum muslimin.’” Tiba-tiba datnglah Hafshah beserta rombongan wanita, ketika kami melihat a masuk maka kami segera berdiri menghindar, HAfshah duduk di sisinya dan menangis beberapa saat, tak berapa lama datang rombongan lelaki minta izin untuk dapat menjenguk Umar, maka segera Hafshah masuk ke dlam sambil mempersilakan rombongan lelaki menjenguk Umar. Sementara kami masih mendengar isak tangisnya di dalam.

Orang-orang berkata, “Berilah wasiat wahai Amirul Mukminin, pilihlah penggantimu!” Umar berkata, “Aku tida mendapati ada orang yang lebih berhak memegang urusan ini (menjadi khalifah) selain dari enam orang yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam rela atas mereka ketika wafatnya.” Umar menyebutkan nama mereka Ali, Utsman, Az-Zubair, Thalhah, Sa’ad dan Abdurrahman. Beliau berkata, “Yang menjadi saksi kalian adalah Abdullah bin Umar dan ia tidak berhak dipilih. Jika kelak yang terpilih Sa’ad maka dia berhak untuk itu, jika tidak maka hendaklah kalian memintanya agar menunjuk siapa yang berhak di antara kalian, sebab aku tidak penah mencopotnya disebabkan dia berkhianat ataupun kelemahannya. Aku wasiatkan kepada khalifah setelahku agar memperhatikan kaum Muhajirin yang terdahulu keislamannya, hendaklah dijaga dan diperhatikan hak-hak maupun kehormatan mereka. Aku juga waiatkan kepada penggantiku kelak agar memperhatikan kaum Anshar sebaik mungin. Merekalah orang-orang yang telah menyiapkan kampung halaman beserta rumahmereka untuk menampung kaum Muhajirin dan orang-orang yang beriman. Hendaklah kebaikan mereka dhormati dan diterima dengan baik, dan kejelekan mereka hendaklah dimaafkan. Aku asiatkan kepada penggantiku untuk memperhatikan seluruh penduduk kota sebab merka adalah para penjaga Islam, pemasok harta dan pagar pelindung terhadap musuh. Janganlah diambil dari mereka kecuali kelebihan dari harta mereka dengan kerelaan hati merka. Aku wasiatkan juga kepada penggantiku kelak agar memperhatikan dengan baik orang-orang Arab pedalaman, sebab mereka adalah asalnya bangsa Arab dan personil Islam. Hendaklah dipungut dari mereka zakat binatang ternak ereka dan disalurkan kepada orang-orang yang miskin dari mereka. Aku wasiatkan juga kepada penggantiku kelak agar menjaga seluruh ahli dzimmah. Hendaklah perjanjian maupun kesepakatan dengan mereka tetap dipelihara. Dan yang diperangi itu hendaklah orang-orang kafir selain mereka (selain ahli dzimmah). Janganlah mereka dibebani dengan hal yang tidak dapat mereka pikul.”

Ketika Umar wafat maka kami keluar membawa jenazahnya menuju rumah ‘Aisyah, Abdullah bin Umar mengucapkan salam sambil berkata, “Umar bin Al-Khaththab minta izin agar dapat masuk.” ‘Aisyah menjawab, “Bawalah ia masuk. “Maka jenazah Umar dibawa masuk dan dikebumikan di tempat itu bersama kedua sahabatnya.”[11]

Umurnya Ketika Wafat

Masih diperselisihkan berapa usia Umar ketika ia wafat, dalam masalah ini terdapat sepuluh pendapat. Kemudian Ibnu Katsir menyebutkan sembilan pendapat saja dengan emulai pendapat yang didahulukan oleh Ibnu Jarir dalam tarikhnya.

Ibnu Jarir berkata, “Kami diberitahukan oleh Zaid bin Akhzam ia berkata ‘Kami diberitahukan oleh Abdu Qtaibah ari Jarir bin Hazim dari Ayyub dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Umar terbunuh ketika berusia 55 tahun”, Ad-Darawardi meriwayatkan dari Ubaidullah bin Umar, dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar. Demikian pula Abdur Razzaq mengatakan yang sama dari riwayat Ibnu Juraij dari Az-Zuhri, adapun Ahmad meriwayatkannya dari Hasyim dari Ali bin Zaid dari Salim bin Abdullah bin Umar.[12]

Setelah itu ia menyebutkan pendapat lain, “Diriwayatkan dari Amir As-Sya’bi, dia berpendapat, “Ketika Umar wafat ia berusia 63 tahun.”[13] Menurutku, inilah pendapat yang masyhur. Ia juga menyebutkan pendapat Al-Madaini, “Umar wafat ketika berusia 57 tahun.”[14]

sumber: Al-Bidayah Wan Nihayah ~ Ibnu Katsir. Terbitan Darul Haq.

Footnote:

[1]. Ibnu Sa’ad juga mengeluarkan semakna dengan ini dalam Ath-Thabaqat Al-Kubra, 3/335

[2]. Diriwayatkan Al-Bukhari dalam Shahihnya, kitab Fadhail Madinah, bab Karahiyatu An-Nabi an Tu’ra Al-Madinah (4/100 Fathul Bari)

[3]. Ath-Thabari berkata 4/190, “Dia beragama Nasrani,” dalam jilid 4/190 dia berkata, “Abu Lu’lu’ah berasal dari Nahawand, setelah itu dia ditawan orang Romawi, setelah itu dia ditawan oleh tentara kaum muslimin.

[4]. As-Sifaq yaitu daerah sekitar pusar berupa kulit yang tipis yang terletak di bawah kulit luar dan di atas daging. (Lisanul Arab 10/203)

[5]. Dalam Thabaqat Ibnu Sa’ad 3/337 dari riwayat Husahin bin Amr bin Maimun bahwa yang terbunuh sembilan orang, dan mungkin itu adalah kekeliruan, sebab yang terdapat dalam Shahih Al-Bukhari hanya tujuh orang yang tewas, dan riwayat ini dari Hushain bin Amr dari Maimun

[6]. Al-Hafizh Ibn Hajarberkata dalam Fathul Bari, 7/63, “Di dalam Zail Al-Isti’ab karya Ibn Fathun dari jalan Sa’id bin Yahya Al-Umawi dengan sanadnya dia berkata, “Ketika melihat tragedi in maka salah seorang dari Muhajirin yag bernama Hatthan At-Tamimim Al-Yarbu’i melemparkan mantelnya. “Dan dikatakan bahwa riwayat ini yang paling shahih dibandingkan riwayt Ibnu Sa’ad yang memiliki sanad dha’if dan munqati’ yang menyatakan bahwa lelaki itu adlaah Abdullah bin ‘Auf yang kemudian memenggal kepalanya, dia berkata, “Jika jalan ini benar maka bisa jadi kedua orang ini sama-sama bersekutu membunuhnya.”

[7] Ath-Thabaqat Al-Kubra 3/365, Tarikh At-Thabari 4/193

[8] Atrikh Ath-Thabari 4/194

[9] Ibid

[10] Tulisan ini adalah tambahan dari naskah aslinya, sengaja kita (pentahqiq) sebutkan karena begitu pentingnya isi dalamnya dan sekaligus bersumber dari jalan yang shahih

[11] Kitab Fadhail Shahabah Bab Qissatul Bai’ah (7/59 dari Fathul Bari)

[12] Tarih Ath-Thabari 4/197

[13] Ibid 4/198, Ibnu Sa’ad menyebutkan hal yang semakna dalam Thabaqat 3/365 dari dua jalan dari Abu Ishaq As-Sabi’iy dan Amir Ibnu Sa’ad dari Jarir bahwa dia pernah mendengar Muawiyah berkata, “Umar wafat ketika berusia enam puluh tiga tahun.” Al-Waqidi berkata, “Hadits ini tidak kami ketahui pernah terdengar di Madinah, pendapatyang paling kuat menurut kami bahwa dia wafatketika berusia enam puluh tahun.” Menurutku, Isnad Ibnu Sa’ad lemah di dalamnya terdapat Hariz aula Muawiyah, berkata Al-Hafizh mengenai diri perawi ini dalam At-Taqrib no 1195. “Dia majhul (tidak dikenal) dari thabaqah ketiga”

[14] Lihat Tarikh AthThabari, 4/198 kukatakan, “Pendapat Al-Madaini sesuai dengan apa pendapat pengarang bahwa umurnya ketika masuk Islam dua puluh tujuh tahun, tepatnya enam tahun setelah Rasul diutus (27 + 7 + 23 = 57)”

Sunday, 12 January 2014

Shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang Paling Akhir Meninggal Dunia

As-Suyuuthiy rahimahullah berkata:
[وآخرهم] أي الصَّحابة [موتًا] مُطلقا [أبو الطُّفيل] عامر بن واثلة الليثي [مات سَنَة مئة] من الهجرة. قاله مسلم في «صحيحه» ورواه الحاكم في «المستدرك» عن خليفة بن خيَّاط.
وقال خليفة في غير رواية الحاكم: إنَّه تأخَّر بعد المئة.
وقيلَ: مات سَنَة اثنتين ومئة. قاله مُصعب بن عبد الله الزُّبيري.
وجزم ابن حبَّان, وابن قانع, وأبو زكريا بن منده: أنَّه مات سَنَة سبع ومئة.
وقال وهب بن جرير بن حازم, عن أبيه: كنتُ بمكَّة سَنَة عشر ومئة, فرأيتُ جنازة, فسألتُ عنها, فقالوا: هذا أبو الطُّفيل.
وصحَّح الذَّهَبي أنَّه سَنَة عشر.
وأمَّا كونه آخر الصَّحابة موتًا مُطْلقًا, فجزم به مسلم, ومصعب الزُّبيري, وابن منده, والمِزِّي في آخرين.
وفي «صحيح» مُسلم عن أبي الطُّفيل: رأيت رَسُول الله - صلى الله عليه وسلم - وما على وجه الأرض رجُل رآهُ غيري.
“Dan yang paling akhir di kalangan shahabat yang meninggal dunia secara mutlak adalah Abu Thufail ‘Aamir bin Waatsilah Al-Laitsiy. Ia meninggal dunia tahun 100 H, sebagaimana dikatakan Muslim dalam Shahiih-nya[1]. Diriwayatkan pula oleh Al-Haakim dalam Al-Mustadrak[2] dari Khaliifah bin Khayyaath.
Telah berkata Khaliifah (bin Khayyaath)[3] dalam selain riwayat Al-Haakim : “Sesungguhnya ia meninggal dunia setelah tahun 100 H”.
Dan dikatakan : “Ia meninggal dunia tahun 102 H – sebagaimana dikatakan Mush’ab bin ‘Abdillah Az-Zubairiy[4]”.
Ibnu Hibban[5], Ibnu Qaani’, dan Abu Zakariyya bin Mandah men-jazm-kan (menetapkan) bahwasannya ia meninggal dunia tahun 107 H.
Wahb bin Jariir bin Haazim berkata dari ayahnya : Aku pernah berada di Makkah pada tahun 110 H. Lalu aku melihat jenazah dan kemudian aku tanya orang-orang perihal dirinya. Mereka berkata : “Ini adalah Abuth-Thufail”.[6]
Adz-Dzahabiy membenarkan[7] bahwa ia meninggal dunia tahun 110 H.
Keberadaan Abuth-Thufail sebagai shahabat yang paling akhir meninggal dunia secara mutlak, maka hal itu telah ditetapkan oleh Muslim, Mush’ab Az-Zubairiy, Al-Mizziy[8], dan yang lainnya.
Dalam Shahiih Muslim[9], dari Abu Thufail, ia berkata : “Aku pernah melihat Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak ada seorang pun (yang masih hidup) di muka bumi (saat ini) yang pernah melihat beliau selain aku” [Tadriibur-Raawiy, 2/691-692, tahqiq : Abu Qutaibah Al-Faryaabiy; Maktabah Al-Kautsar, Cet. 2/1415 H].
Adapun jika diklasifikasikan menurut negeri, maka yang paling akhir menurut penjelasan beberapa ulama adalah :
a.     Makkah : Abuth-Thufail – dengan penjelasan di atas.
b.     Madiinah : Sahl bin Sa’d As-Saa’idiy.
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُؤَمَّلِ، ثَنَا الْفَضْلُ بْنُ مُحَمَّدٍ الشَّعْرَانِيُّ، ثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ الْحِزَامِيُّ، قَالَ: " مَاتَ سَهْلُ بْنُ سَعْدٍ السَّاعِدِيُّ، يُكَنَّى أَبَا الْعَبَّاسِ بِالْمَدِينَةِ سَنَةَ إِحْدَى وَتِسْعِينَ، وَهُوَ آخِرُ مَنْ مَاتَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ وَهُوَ ابْنُ مِائَةِ سَنَةٍ "
Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Al-Muammal : Telah menceritakan kepada kami Al-Fadhl bin Muhammad Asy-Sya’raaniy : Telah menceritakan kepada kami Ibraahiim bin Al-Mundzir Al-Hizaamiy, ia berkata : Sahl bin Sa’d As-Saa’idiy yang berkun-yah Abul-‘Abbaas meninggal dunia di Madiinah pada tahun 91 H, dan ia adalah orang terakhir yang meninggal dunia dari kalangan shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam di Madiinah, yang berusia 100 tahun” [Diriwayatkan oleh Al-Haakim, 3/572; sanadnya hasan hingga Ibraahiim].
Al-Mizziy berkata :
قال محمد بن سعد : ليس بيننا فى ذلك اختلاف ـ يعنى فى أنه آخر من مات بالمدينة من الصحابة
“Muhammad bin Sa’d berkata : Tidak ada perbedaan pendapat di antara kami tentang hal itu’ – yaitu bahwa ia adalah orang yang terakhir meninggal dunia di Madiinah dari kalangan shahabat” [Tahdziibul-Kamaal, 12/190].
Akan tetapi Al-‘Iraaqiy mengatakan bahwa Mahmuud bin Ar-Rabii’-lah yang paling akhir meninggal dunia di Madiinah, yaitu tahun 99 H [Tadriibur-Raawiy, 2/694].
c.      Kuufah : ‘Abdullah bin Abi Aufaa.
أَخْبَرَنِي مَخْلَدُ بْنُ جَعْفَرٍ، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَرِيرٍ، قَالَ: " وَقَدْ قِيلَ إِنَّ آخِرَ مَنْ مَاتَ بِالْكُوفَةِ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أَوْفَى "
Telah mengkhabarkan kepadaku Makhlad bin Ja’far : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Jariir, ia berkata : “Dan sungguh telah dikatakan, sesungguhnya orang terakhir yang meninggal dunia di Kuufah dari kalangan shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam adalah ‘Abdullah bin Abi Aufaa” [Diriwayatkan oleh Al-Haakim 3/571; sanadnya hasan hingga Muhammad bin Jariir].
Ibnu Hajar berkata :
شهد الحديبية ، و عمر بعد النبى صلى الله عليه وسلم دهرا ، و هو آخر من مات بالكوفة من الصحابة
“Ia menyaksikan perjanjian Hudaibiyyah dan berumur panjang sepeninggal Nabishallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ia adalah orang terakhir yang meninggal dunia di Kuufah dari kalangan shahabat” [Tahdziibut-Tahdziib, 5/152].
‘Abdullah bin Abi Aufaa ‘Alqamah bin Khaalid bin Al-Haarits Al-Aslamiy, Abu Ibraahiim/Abu Muhammad/Abu Mu’aawiyyah; salah seorang shahabat Nabishallallaahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Meninggal dunia pada tahun 87 H. Dipakai Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 492 no. 3236].
d.     Khurasaan : Buraidah bin Al-Hashiib.
Ibnu Hajar berkata :
هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ، وَفِيهِ: ثَلَاثَةٌ مِنَ الصَّحَابَةِ، بُرَيْدَةُ هُوَ ابْنُ الْحَصِيبِ الْأَسْلَمِيُّ، شَهَدَ فَتْحَ خَيْبَرَ، وَهُوَ آخِرُ مَنْ مَاتَ مِنَ الصَّحَابَةِ بِخُرَسَانَ، وَأَسْلَمَ قَبْلَ بَدْرٍ، وَلَمْ يَشْهَدْهَا،
Ini adalah hadits shahih. Padanya terdapat tiga orang shahabat, yaitu : (1) Buraidah bin Al-Hashiib Al-Aslamiy. Ia menyaksikan peperangan Khaibar, dan ia adalah orang terakhir yang meninggal dunia dari kalangan shahabat di Khurasaan. Masuk Islam sebelum peperangan Badr, namun ia tidak ikut serta di dalamnya...” [Ittihaaful-Khairah, 1/122].
Abu Nu’aim berkata :
وَهُوَ آخِرُ مَنْ مَاتَ مِنَ الصَّحَابَةِ بِخُرَاسَانَ سَنَةَ اثْنَتَيْنِ وَسِتِّينَ
“Ia (Buraidah bin Al-Hashiib) adalah orang terakhir yang meninggal dunia dari kalangan shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam di Khurasaan, pada tahun 62 H” [Ma’rifatush-Shahaabah, 1/34].
Akan tetapi Al-‘Iraaqiy menyanggah bahwa Abu Barzah Al-Aslamiy lah yang paling akhir meninggal dunia di sana, yaitu tahun 74 H [Tadriibur-Raawiy, 2/697].
e.     Syaam : ‘Abdullah bin Busr.
Abu Nu’aim berkata :
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُسْرٍ أَبُو صَفْوَانَ السُّلَمِيُّ الْمَازِنِيُّ يُكَنَّى أَبَا بِسْرٍ، وَقِيلَ: أَبُو صَفْوَانَ، آخِرُ مَنْ مَاتَ بِالشَّامِ مِنَ الصَّحَابَةِ
“’Abdullah bin Busr, Abu Shafwaan As-Sulamiy Al-Maaziniy, berkun-yah Abu Bisr, atau dikatakan : Abu Shafwaan. Ia adalah orang terakhir yang meninggal dunia di Syaam dari kalangan shahabat” [Ma’rifatush-Shahaabah, 3/106]
Taajuddiin As-Subkiy berkata :
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُسْرٍ الْمَازِنِيُّ مِنْ بَنِي مَازِنِ بْنِ مَنْصُورٍ آخِرُ مَنْ مَاتَ مِنَ الصَّحَابَةِ بِالشَّامِ، وَكَانَتْ وَفَاتُهُ سَنَةَ ثَمَانٍ وَثَمَانِينَ، وَقِيلَ: سَنَةَ سَبْعٍ وَثَمَانِينَ، وَلَهُ عَنِ النَّبِيِّ أَحَادِيثُ
“’Abdullah bin Busr Al-Maaziniy dari Bani Maazin bin Manshuur, orang terakhir yang meninggal dunia dari kalangan shahabat di Syaam. Ia meninggal dunia tahun 88 H, dan dikatakan pula tahun 87 H. Ia mempunyai beberapa hadits dari Nabishallallaahu ‘alaihi wa sallam” [Mu’jamusy-Syuyuukh, no. 172].
f.      Bashrah : Anas bin Maalik.
Al-Baghawiy berkata:
وَأَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَبُو حَمْزَةَ النَّجَّارِيُّ الْخَزْرَجِيُّ، خَادِمُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَكَنَ الْبَصْرَةَ، مَاتَ بِهَا سَنَةَ ثَلاثٍ وَتِسْعِينَ، هُوَ وَجَابِرُ بْنُ زَيْدٍ فِي جُمُعَةٍ، وَدُفِنَ بِالطَّفِّ عَلَى فَرْسَخَيْنِ مِنَ الْبَصْرَةِ، وَكَانَ آخِرَ مَنْ مَاتَ بِالْبَصْرَةِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Anas bin Maalik, Abu Hamzah An-Najjaariy Al-Khazraajiy, pembantu Nabishallallaahu ‘alaihi wa sallam. Tinggal di Bashrah dan meninggal dunia di sana pada tahun 93 H. Ia dan Jaabir bin Zaid meninggal dunia pada hari Jum’at. Dikuburkan di Thaff yang berjarak 2 farsakh dari Bashrah. Ia adalah orang terakhir yang meninggal dunia di Bashrah dari kalangan shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam” [Syarhus-Sunnah, 1/29].
g.     Sijistaan : Al-‘Adaa’ bin Khaalid bin Haudzah.
Ibnu Hajar berkata :
و ذكر أبو زكريا بن مندة أنه آخر من مات من الصحابة بالرخيخ
“Abu Zakariyyaa bin Mandah menyebutkan bahwa ia adalah orang yang paling akhir meninggal dunia dari kalangan shahabat di Rakhiij” [Tahdziibut-Tahdziib, 7/163].
As-Suyuuthiy berkata :
آخرهُم بسجستان: العَدَاء بن خالد بن هَوْذة, ذكرهما أبو زكريا بن مَنْده
“Orang yang paling akhir dari kalangan shahabat yang meninggal dunia di Sijistaan adalah Al-‘Adaa’ bin Khaalid bin Haudzah. Kedua hal itu disebutkan oleh Abu Zakariyyaa bin Mandah” [Tadriibur-Raawiy, 2/697].
h.     Thaaif : Ibnu ‘Abbaas.
i.       Ashbahaan : An-Naabighah Al-Ja’diy.
j.      Samarqand : Qutsam bin Al-‘Abbaas.
As-Suyuuthiy berkata :
وآخرهم بالطَّائف: ابن عبَّاس.
وآخرهُم بأصبهان: النَّابغة الجَعْدي, قاله أبو الشَّيْخ, وأبو نُعيم.
وآخرهم بسمرقند: قُثَم بن العبَّاس
“Yang paling akhir meninggal dunia dari mereka (shahabat) di Thaaif adalah Ibnu ‘Abbaas. Yang paling akhir meninggal dunia dari mereka di Ashbahaan adalah An-Naabighah Al-Ja’diy. Dan yang paling akhir meninggal dunia dari mereka di Samarqand adalah Qutsam bin Al-‘Abbaas” [idem].
Wallaahu a’lam.
Itu saja yang dapat dituliskan, semoga ada manfaatnya.
[abul-jauzaa’ – perumahan ciomas permai, ciapus, ciomas, bogor – 27021435/29122013 – 22:30].




[1]        Setelah hadits no. 2340 :
قَالَ مُسْلِمُ بْنُ الحْجَّاجِ: مَاتَ أَبُو الطُّفَيْلِ، سَنَةَ مِائَةٍ، وَكَانَ آخِرَ مَنْ مَاتَ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Muslim bin Al-Hajjaaj berkata : “Abuth-Thufail meninggal dunia pada tahun 100 H, dan ia adalah orang terakhir yang meninggal dunia dari kalangan shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam”.
[2]        3/618.
[3]        Ath-Thabaqaat hal. 30 & 279.
[4]        Diriwayatkan oleh Al-Haakim dalam Al-Mustadrak 3/618 :
حَدَّثَنِي أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ بَالَوَيْهِ، ثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ إِسْحَاقَ الْحَرْبِيُّ، ثَنَا مُصْعَبُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: " عَامِرُ بْنُ وَاثِلَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ جَحْشِ بْنِ حَيَّانَ بْنِ سَعْدِ بْنِ لَيْثٍ وُلِدَ عَامَ أُحُدٍ، وَأَدْرَكَ مِنْ حَيَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ ثَمَانَ سِنِينَ نَزَلَ الْكُوفَةَ، ثُمَّ أَقَامَ بِمَكَّةَ حَتَّى مَاتَ وَهُوَ آخِرُ مَنْ مَاتَ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ مَاتَ سَنَةَ اثْنَتَيْنِ وَمِائَةٍ "
Telah menceritakan kepadaku Abu Bakr Muhammad bin Ahmad bin Baalawaih : Telah menceritakan kepada kami Ibraahiim bin Ishaaq Al-Harbiy : Telah menceritakan kepada kami Mush’ab bin ‘Abdillah, ia berkata : “’Aamir bin Waatsilah bin ‘Abdillah bin ‘Amru bin Jahsy bin Hayyaan bin Sa’d bin laits, lahir pada tahun peperangan Uhud. Ia menjumpai kehidupan Nabishallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam selama 8 (delapan) tahun. Tinggal di Kuufah, lalu menetap di Makkah hingga meninggal dunia. Ia adalah orang terakhir yang meninggal dunia dari kalangan shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam. Meninggal dunia tahun 102 H”.
Sanadnya shahih, para perawinya tsiqaat:
a.      Muhammad bin Ahmad bin Baalawaih, Abu Bakr Al-Jalaab An-Naisaabuuriy; seorang imam di jamannya. Termasuk thabaqah ke-15, dan wafat tahun 340 H [Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 15/419 no. 233].
b.      Ibraahiim bin Ishaaq bin Ibraahiim bin Basyiir Al-Baghdaadiy Al-Harbiy, Abu Ishaaq; seorang imam, tsiqah, lagi haafidh. Lahir tahun 198 H dan wafat tahun 285 H [Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 13/356-372 no. 173].
c.      Mush’ab bin ‘Abdillah bin Mush’ab bin Tsaabit bin ‘Abdillah bin Az-Zubair bin Al-‘Awwaam Al-Qurasyiy Al-Asadiy, Abu ‘Abdillah Az-Zubairiy Al-Madaniy; seorang yang tsiqah dan‘aalim dalam masalah nasab. Termasuk thabaqah ke-10, lahir tahun 156 H, dan wafat tahun 236 H. Dipakai oleh An-Nasaa’iy dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 946 no. 6738 dan Tahriirut-Taqriib 3/383 no. 6693].
[5]        Taariikh Ash-Shahaabah hal. 184.
[6]        Abu Nu’aim membawakan riwayat tersebut sebagai berikut:
حَدَّثَنَاهُ أَحْمَدُ بْنُ بُنْدَارٍ، قَالَ: سَمِعْتُ أَحْمَدَ بْنَ عَمْرٍو الْبَزَّارَ، ثنا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ، سَمِعْتُ وَهْبَ بْنَ جَرِيرٍ، يَقُولُ: سَمِعْتُ أَبِي، يَقُولُ: " كُنْتُ بِمَكَّةَ سَنَةَ عَشْرَةٍ وَمِائَةٍ، فَرَأَيْتُ جِنَازَةً، فَسَأَلْتُ عَنْهَا، فَقَالُوا: هَذَا أَبُو الطُّفَيْلِ "
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Bundaar, ia berkata : Aku mendengar Ahmad bin ‘Amru Al-Bazzaar : Telah menceritakan kepada kami Nashr bin ‘Aliy : Aku mendengar Wahb bin Jariir berkata : Aku mendengar ayahku berkata : “Aku pernah berada di Makkah pada tahun 110 H. Lalu aku melihat jenazah dan kemudian aku tanya (orang-orang) perihal dirinya. Mereka berkata : ‘Ini adalah Abuth-Thufail” [Ma’rifatush-Shahaabah no. 5214].
Sanad riwayat ini shahih, para perawinya tsiqaat:
a.      Ahmad bin Bundaar bin Ishaaq Al-Ashbahaaniy Asy-Syaa’ir Adh-Dhaahiriy, Abu ‘Abdillah; seorang imam yang tsiqah. Wafat tahun 359 H [Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 16/61-62 no. 42].
b.      Ahmad bin ‘Amru bin ‘Abdil-Khaaliq bin Khalaad bin ‘Ubaidillah, Abu Bakr Al-‘Atakiy Al-Bazzaar Al-Bashriy, shaahibul-musnad; seorang yang tsiqah lagi haafidh, namun mempunyai banyak kekeliruan dalam hadits. Wafat tahun 291 H [Irsyaadul-Qaadliy wad-Daaniy, hal. 145-146 no. 155].
c.      Nashr bin ‘Aliy bin Nashr bin ‘Aliy bin Shahbaan bin Abil-Azdiy Al-Jahdlamiy, Abu ‘Amru Al-Bashriy Ash-Shaghiir; seorang yang tsiqah lagi tsabat. Termasuk thabaqah ke-10, wafat tahun 250 H di Bashrah. Dipakai Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 1000 no. 7170].
d.      Wahb bin Jariir bin Haazim bin Zaid bin ‘Abdillah bin Syujaa’ Al-Azdiy, Abul-‘Abbaas Al-Bashriy; seorang yang tsiqah. Termasuk thabaqah ke-9 dan wafat tahun 206 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 1043 no. 7522].
e.      Jariir bin Haazim bin Zaid bin ‘Abdillah Al-Azdiy Al-‘Atakiy Abun-Nadlr Al-Bashriy; seorang yang tsiqah. Termasuk thabaqah ke-6, wafat tahun 170 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy dalam Al-Adabul-Mufrad, Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah [Taqriibut-Tahdziib, hal. 196 no. 919 dan Tahriir At-Taqriib 1/212 no. 911].
[7]        Siyaru A’laamin-Nubalaa’ 3/470, Al-Kaasyif 2/52, dan dengannya Ibnu Hajar berkata dalamAt-Taqriib hal. 288.
[8]        Tahdziibul-Kamaal, 14/81, ia berkata :
سكن الكوفة ، ثم سكن مكة ، و أقام بها حتى مات سنة مئة ، و هو آخر من مات من جميع أصحاب النبى صلى الله عليه وسلم
“Tinggal di Kuufah, lalu di Makkah dan menetap di sana hingga meninggal dunia tahun 100 H. Ia adalah orang terakhir yang meninggal dunia dari kalangan shahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam”.

Wednesday, 25 December 2013

Zaid bin Tsabit

Nama lengkapnya adalah Zaid bin Tsabit bin Adh-Dhahak bin Zaid Ludzan bin Amru, dia masuk islam ketika umur 11 tahun ketika perang Badar terjadi.


Perjalanan hidupnya.

Nabi menyerahkan bendera Bani Malik bin an-Najjar kepada ‘Imarah sebagai komandan perang Tabuk, lalu Nabi mengambilnya dan diserahkan kepada Zaid bin Tsabit. Ketika beliau memintanya, maka Imarah bertanya,” Ya Rasulullah, apakah engkau akan menyerahkan sesuatu yang engkau berikan kepadaku?. Beliau menjawab,” Tidak, tetapi al-Quran harus didahulukan, dan Zaid bin Tsabit lebih banyak menguasai bacaan Al-Quran daripadamu”.

Zaid juga sebagai penulis wahyu bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam.

Saat Umar menjadi Khalifah dia diangkat sebagai amir (gubernur) Madinah sebanyak 3 kali di ibukota atau di wilayah pusat kekuasaan, dan dia juga ditugaskan untuk mengumpulkan al-Quran atas perintah Abu Bakar dan Umar sebagai mana dijelaskan dalam riwayat yang diriwayatkan oleh Bukhari : “Zaid bin Tsabit berkata” Aku disuruh menghadap Abu Bakar berkenaan dengan pembunuhan yang dilakukan penduduk Yamamah, dan ketika itu dihadapan nya ada Umar bin al-Khaththab. Lalu Abu Bakar berkata, “Jika perang terus berkecamuk banyak memakan korban jiwa kaum muslimin, banyak para penghapal al-Quran di negeri ini terbunuh, dimana akhirnya banyak bagian al-Quran yang hilang maka agar al-Quran dibukukan, aku berpandangan sama dengan Umar, engkau laki laki yang cerdas dan masih muda, maka cari dan kumpulkanlah (Mushaf) al-Quran”.

Zaid bin Tsabit adalah seorang ulama yang kedudukannya sama dengan para ulama dari kalangan sahabat lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda,” Umatku yang paling menguasai ilmu Faraidh adalah Zaid bin Tsabit”. Riwayat lain yang senada terdapat dalam riwayat Imam an-Nasa’I dan Ibnu Majah, dimana nabi bersabda,” Umatku yang paling penyayang adalah Abu Bakar, yang paling kuat kesaksiannya dihadapan Allah adalah Umar, yang paling diakui perasaan malunya adalah Utsman dan yang paling menguasai faraidh adalah Zaid bin Tsabit.”.

Ketika Zaid bin Tsabit wafat maka Abu Hurairah berkata,” Telah wafat orang terbaik dari umat ini semoga Allah menjadikan Ibnu abbas sebagai penggantinya”.

Wafatnya


Ia wafat di Madinah pada tahun 45 H dalam usia 56 tahun (dalam riwayat lain ia wafat tahun 51 H atau 52 H)

sumber:http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/10/01/zaid-bin-tsabit-wafat-45-h/

Tuesday, 24 December 2013

Annas bin Malik

Anas bin Malik urutan ke tiga dari sahabat yang banyak meriwayatkan hadist, Ia meriwayatkan sebanyak 2.286 hadits.

Anas adalah (Khadam) pelayan Rasulullah yang terpercaya, ketika ia berusia 10 tahun, ibunya Ummu sulaiman membawanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam untuk berkhidmat. Ayahnya bernama Malik bin an-Nadlr. Rasulullah sering bergurau dengan Anas bin Malik, dan Rasulullah sendiri tidaklah bersikap seperti seorang majikan kepada hambanya.

Anas sendiri pernah berkata:” Rasulullah Shallallahu alaihi wasssalam tidak pernah menegur apa yang aku perbuat, beliau juga tidak pernah menanyakan tentang sesuatu yang aku tidak kerjakan, akan tetapi beliau selalu mengucapkan Masya’allahu kan wa ma lam yasya”.

Anas bin Malik tidak berperang dalam perang Badar yang akbar, karena usianya masih sangat muda. Tetapi ia banyak mengikuti peperangan lainnya sesudah itu. Pada waktu Abu Bakar meminta pendapat Umar mengenai pengangkatan Anas bin Malik menjadi pegawai di Bahrain, Umar memujinya :” Dia adalah anak muda yang cerdas dan bisa baca tulis, dan juga lama bergaul dengan Rasulullah”.

Sedangkan Komentar Abu Hurairah tentangnya : “ Aku belum pernah melihat orang lain yang shalatnya menyerupai Rasulullah kecuali Ibnu Sulaiman (Anas bin Malik)”.

Ibn Sirin berkata:” Dia (Anas) paling bagus Shalatnya baik di rumah maupun ketika sedang dalam perjalanan”.

Pada hari hari terakhir masa kehidupannya, Anas pindah ke Basrah, Sebagian lain mengatakan kepindahannya karena terkena fitnah Ibn al-Asy’ats yang mendorong Hajjaj mengancamnya. Maka tidak ada jalan lain bagi anas bin Malik untuk pindah ke Basrah yang menjadikan satu satunya sahabat Nabi disana.

Itulah sebabnya para Ulama mengatakan bahawa Anas bin Malik adalah sahabat terakhir yang meninggal di Basrah., pada wafatnya Muwarriq berkata: “ Telah hilang separuh ilmu. Jika ada orang suka memperturutkan kesenangannya bila berselisih dengan kami, kami berkata kepadanya, marilah menghadap kepada orang yang pernah mendenganr dari Rasululah Shallallahu alaihi wassalam”.

Sanad paling sahih yang bersumber awalnya dari : Malik, dari az-Zuhri, dan dia (Anas bin Malik). Sedangkan yang paling Dlaif dari Dawud bin al-Muhabbir, dari ayahnya Muhabbir dari Abban bin Abi Iyasy dari dia.

Ia wafat pada tahun 93 H dalam usia melampaui seratus tahun.

sumber:http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/09/28/anas-bin-malik-wafat-177-h/

Abdullah bin 'Amr bin Ash

Dia adalah seorang dari Abadilah yang faqih, ia memeluk agama Islam sebelum ayahnya, kemudian hijrah sebelum penaklukan Mekkah. Abdullah seorang ahli ibadah yang zuhud, banyak berpuasa dan shalat, sambil menekuni hadits Rasulullah Shallahllahu ‘alaihi Wassalam. Jumlah hadits yang ia riwayatkan mencapai 700 hadits, Sesudah minta izin Nabi Shallahu ‘alaihi Wassalam untuk menulis, ia mencatat hadits yang didengarnya dari Nabi. Mengenai hal ini Abu Hurairah berkata “ Tak ada seorangpun yang lebih hapal dariku mengenai hadits Rasulullah, kecuali Abdullah bin Amr bin al-Ash. Karena ia mencatat sedangkan aku tidak”.

Abdullah bin Amr meriwayatkan hadits dari Umar, Abu Darda, Muadz bin Jabal, Abdurahman bin Auf, dan beberapa yang lain. Yang meriwayatkan darinya antara lain Abdullah bin Umar bin Al-Khatthab, as-Sa’ib bin Yazid, Sa’ad bin Al-Musayyab, Thawus, dan Ikrimah.

Sanad paling shahih yang berpangkal darinya ialah yang diriwayatkan oleh Amr bin Syu’aib dari ayahnya dan kakeknya Abdullah.

Abdullah bin Amr wafat pada tahun 63 H pada malam pengepungan Al-Fusthath.

sumber: http://ahlulhadist.wordpress.com/2007/10/02/ibnu-amr-abdullah-bin-amr-bin-ash-wafat-63-h/